Apakah Operator Seluler Tak Punya Aturan

Mengenai jumlah sampah yg dikirim pihak ketiga ke setiap pengguna setiap harinya? Bayangkan saja pengguna membayar/membeli pulsa dangan harga pantas, tetapi setiap harinya kita mendapat 2-4 sampah iklan yg kita sendiri tidak tahu apalagi menginginkan. Setiap operator harusnya tahu diri bagaimana mengontrol invasi pihak ketiga tersebut yg jelas-jelas sebagian besar nebeng dari operator (yg mana semakin menggelisahkan konsumen akan kebenaran isi sms tersebut).

POTONG HARGA JIKA MAU PROMOSI!

Ini kan bukan media gratis seperti radio atau TV yg dapat dimaklumi kalau ada iklannya untuk menunjang produksi. Ini adalah media yg konsumen biayai sendiri, tentu operator mendapat pendapatan tambahan dari pihak penyampah tapi analoginya seperti halnya sales keliling kita berhak untuk tidak membukakan pintu atau menolak jika terlanjur bertemu, nah ini nyelonong aja kayak maling (dan tujuannya memang mau maling pulsa) ! Kalau memang pada kartu perdana/isi ulang dikatakan kita akan mendapat iklan, ya saya maklum tapi jika tidak harusnya operator memangkas biaya pulsa dengan memberi kejelasan maksimal berapa sampah yg akan diterima konsumen kan mereka sendiri yg mengijinkan pihak ketiga tersebut.

Ini sih lebih miris daripada spam di email. Pada kasus email kita ditumpangi iklan karena memakai email dengan gratis, nah spam datang dengan berbagai cara yg sebagian disebabkan karena kita sering mengumbar email, dan sebagian lagi adalah kebetulan. Itupun pihak provider berusaha menolong dengan membuat spam filter. Nah bagaimana dengan operator seluler Indonesia? Masih punyakah mereka tanggung jawab?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Sok inggris: This is how dream devastated

Lately when I read kompas.com if it was not about natural disasters and government's repeated blunders on handling them, it was about corruptions. For months the news highlights scumbag Gayus Tambunan and the untouchable by law, the richest man (in Indonesia or probably SE Asia), the man who should responsible for Lapindo (Porong) disaster, the former ministry of welfare, the current leader of Golkar party, the ALMIGHTY Aburizal Bakrie. Bakrie is the grafter to Gayus in recently massive tax deviation for his giant corporation.

Arguably there is (of course) tons of another Gayus lurking but feel overconfident to just keep doing their systematic crime. Gayus the scum could made "easy hot" money accounted for (debatable) $10M just from Bakrie Group. While Bakrie himself might be run for future presidential election, this rich bastard not even solve the porong's mud lake case (caused by his own subsidiary company) which suffer hundred thousand victim whence he claimed himself the ministry of welfare. The judge, prosecutor and police can be easily bought by these Bakrietards. His immunity to law also like no others. Gayus even bribe the prison head guard to gain his "free" weekend vacation while still in imprisonment. This man never regret his act like hara-kiri act in japan after all who will reject money? his money is the same amount as the government had to compensate for the dying livestocks of Mount Merapi's wrath victims which is far too late to be done now.

The gross and evident corruptions are used to be solved by still-trusted fearless KPK but the law's illness will keep these commodity case away from KPK. How much money gone to this fucktards everyday? How more precious assets being sold out by our government? How many smart people will keep flee from Indonesia to catch their dreams? How long will the elderly keep poisoning the youngster? Even I keep my skeptic toward current generation who has soaring consumerism and glamor attitude or else a baby boomer generation (not by number of child but from early marriage) or a losing identity generation. The continuous natural disaster is far from lucky fairness anyway with most victims were the poor.

All majority people in every party and legislation is a complete clown, they start out by making debt, working to pay debt, corrupting to gain profit, went insane if failed to be one (I'm serious). One of their joke lately is "If we want to learn democracy we should visit to where "demos" and "krathos" belong to, Greece!" WTF! Can't they learn to use the internet? Nope, oh maybe they will misclick porn link instead (because they only understand picture not english words) and then start calling bitches (for the males) to their office. And surprise! this bitch one day make their way to legislation chair too! alongside dozen of sex bombshell actress and incompetent actors. Government department is filled by degenerate workers who hunt for pension and easy monotonous job. Government is also well known for their excellent piety based on unfounded pathetic religious/myth crap.  Ministers keep polluting television for promoting an act they may not achieved yet. Researcher (IMO the most important human resources) is never have proportional attention by government and keep fleeing abroad which sometime won't ever look back in advance (maybe they think: for what? for being born there?). Oh and by becoming corruptor, if you get caught you just get 3 or 4 years in jail (minus that with revision for "good" behavior) and add the ability to decorate or fully renovate your own prison into hotel (It happening!) is certainly no big deal right?

The secret why this keep happening? The government keep the people (where uneducated still majority) dumbfucked and poor. Yeah, like I ever give a vote since I eligible to! The government reliance to western (even Malay) while at the same time rarely learn their fault is a sweet combination. A pity nation which could be a great power by now. Grieving sad! I wonder what people of Papua, Maluku and Nusa Tenggara think about it? They are the most neglected area by the government anyway.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Antara Rasa dan Nyawa

Beberapa minggu lalu, tiba-tiba saja ada burung emprit tergeletak tengkurap di halaman samping. Aku pikir dia mengalami patah sayap (entahlah) tapi yg jelas tidak tiba terbang lagi. Ku putuskan untuk merawatnya sementara. Ternyata dipatuk emprit lumayan sakit lho soalnya tidak mau lepas :))

Setelah 1 hari, ternyata masih tidak bisa terbang mungkin memang benar emprit tersebut mengalami patah sayap dan juga pada kaki (tapi mungkin juga lumpuh syaraf). Pastinya aku sudah tidak punya pilihan kecuali mengeksekusi hidupnya tapi aku tidak mampu. Rasanya sangat salah karena burung sebagaimana mamalia lain memiliki sistem otak dan syaraf yg kompleks dan pastinya berasa sakit benar kalau bisa bicara. Akhirnya aku pilih membiarkannya di halaman depan supaya dimangsa kucing. Ternyata aku salah besar, keesokan hari dia sekarat karena kedinginan dan tewas 1 jam kemudian T_T sungguh2 bersalah.

Jadi kepikiran bagaimana rasa bersalah tersebut mengecil jika kita mengeksekusi hewan yg lebih rendah (saraf yg lebih sederhana) apalagi tanaman. Di beberapa negara kekejaman terhadap binatang adalah kejahatan kriminal lho.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Malaysia mengapa

Saya ingin bahas tentang malaysia lagi...

Saya masih menyayangkan sikap kebanyakan masyarakat Indonesia yg masih labil, dengan semangat nasionalisme menggebu-gebu melebihi pemerintahnya sendiri. Prihatin

Pertama: Mari jangan dengarkan omongan media massa (terutama TV) terlalu serius karena mereka masih bermental mirip2 sinetron. Tontonan "bodoh" provokatif yg membodohi.
Kedua: Selalu ambil sumber dari berbagai pihak termasuk pihak ketiga (netral) kalau ada.


Sejarah
Menurut saya ada persepsi sesat yg terlanjur dipahami masyarakat malaysia yaitu mengangap bahwa Malay berarti bangsa mereka dan Malay Archipelago berarti "punya leluhur mereka". Padahal penyebutan tersebut dilakukan kononial yg ambil sederhananya karena yg ketemu melayu duluan yg saat itu nyatanya didirikan oleh Parameswara dari kerajaan Sriwijaya, Jambi, Sumatra. Jadi penamaan keliru Malay ini seharusnya bisa jadi Majapahit (yg mengalahkan sriwijaya), Sriwijaya itu sendiri atau yg lainnya meski kata yg lebih tepat dicetuskan Gajahmada (Majaphit) yakni nusantara. Dan Malaysia lebih cocok dengan Melaka.

Apapun argumennya, penghuni pertama wilayah ini adalah Austroloid (oceanian) yg jelas bukan dari daratan asia (Mongoloid) dan tentunya Austroloid tidak sama dengan Negroid. Meskipun pada akhirnya keberagaman didapat dari asimilasi keduanya dan bangsa lain seperti India dan Arab. Keaslian Austroloidsendiri  masih jelas di timur Indonesia terutama Papua dimana berkembang ratusan bahasa/dialek dan budaya yg jauh lebih tua dari bagian barat (Masa kerajaan). sumber: Geodata
Apa yg terjadi justru Malaysia ini merasa seperti pewaris Malay Archipelago yg jelas penamaannya cuma kebetulan dan salah kaprah karena pada akhirnya saat ini Indonesia mencakupi mayoritas wilayah ini diikuti Philipina yg mana keduanya merupakan negara kepulauan tidak seperti Malaysia.


Ekonomi

Jujur hingga kini Indonesia masih berkutat pada korupsi dan borok2 lainnya. Dan garis besarnya Indonesia memang kalah dari Malaysia. Tetapi kita harus jernih melihat masalah yg ada dan realistis, dari mana kemerdekaan Philipina dan Malaysia didapat? Seberapa banyak penjajah (AS dan Inggris) "membantu" mereka? Kondisi geografis? Keberagaman etnis pribumi?

Jelas ada yg salah dengan ekonomi Indonesia yg tumpang tindih dan tidak merata (berkutat di Jawa) dengan SDA mayoritas di luar Jawa. Tapi diluar itu mari kita jujur siapa penggerak ekonomi yg sebenarnya di Indonesia maupun Malaysia? Minoritas, Etnis minoritas terutama China yg memang tersebar dipenjuru dunia dan dikenal ulet adalah bangsa yg teruji subur dalam membangun ekonomi. Yg pintar disini adalah aturan Mahathir dalam melindungi etnis pribumi (Bumiputera) pada praktik perekrutan tenaga kerja. Meskipun saya ragu hal ini cocok untuk indonesia yg mana bangsa China sangat minoritas sedangkan pribuminya sendiri amat beragam dibanding Malaysia cuma 3 Melayu-China-India. Perlu diketahui Singapura yg dulu juga dibawah Inggris memilih lepas dari Malaysia karena mayoritasnya China. Jadi kata siapa Melayu lebih hebat? bangsa China (seperempat) jelas ambil peran penting disini yg mana karena pemerintahan mayoritas dikuasai Bumiputera maka keberhasilan ekonomi dinikmati seluruh bangsa. Penting pula diketahui bahwa Malaysia Timur tidaklah seberkembang Malaysia tanjung (barat) jadi mustahil mengajari Indonesia tentang persebaran ekonomi.

Dari jumlah penduduk Malaysia jauh lebih kecil sekitar sepersembilan Indonesia. Tentu saya tidak bangga jika Indonesia punya penduduk yg besar karena tidak (belum) bisa disamakan dengan China dari segi kualitas. Jelas Indonesia perlu menekan jumlah penduduk sebelum berpikir tentang ekonomi yg adil.


Integritas

Coba saya tanya, adakah model negara di dunia ini yg seperti Indonesia? AS yg beragampun didapat dari "mengusir dan membantai" penduduk asli indian dan mendatang bangsa afrika sebagai budak dengan mayoritas penduduk saat itu adalah kulit putih meski dari bangsa yg berbeda, itupun AS bukan negara kepulauan. Apakah negara2 yg merasa hebat, kaya dan superior mampu menangani masalah Indonesia yg kompleks? Lalu pertanyaanya apakah Soekarno hanya bermimpi ketika mendirikan NKRI? Entahlah... yg jelas majapahit sudah pernah mencapainya. Philipina yg berupa kepulauan (meski jarak yg rapat) hingga kinipun masih menghadapi separatis di sebagian Mindanau. OK kita lihat yg jauh di Afrika, mereka sangatlah beragam tapi hampir tiap negara berdiri atas dasar suku itupun sering diwarnai perang saudara. Singkat kata tidak ada.

Benar bahwa Kesatuan Indonesia seringkali diwarnai insiden berdarah. Tapi yang tidak diketahui dunia pada umumnya adalah tingkat asimilasi yg antar suku pribumi yg tinggi adalah bukti bahwa Indonesia memang bisa dipersatukan dan menjadi model pertama sekaligus contoh yg nyata meski masalah selalu ada dalam menghadapi pendatang (sebut saja kerusuhan 1997). Tapi kondisi etnis China masih lebih menyatu di Indonesia daripada di Malaysia.

Bahasa persatuan Indonesia yg baku dan jelas (tidak seperti Melayu) yg mana masih mengorbankan bahasa penting dunia yakni Inggris. Maka tiap suku di Indonesia minimal adalah bilingual. Dengan adopsi Bahasa Inggris yg masih susah payah. Coba tengok Malaysia apa etnis China disana bisa bahasa melayu? Disini saja etnis China banyak yg fasih bahasa Jawa dan Indonesia disamping bahasa asli mereka.


Pendidikan

Tidak perlu diperdebatkan Indonesia sangat tidak merata kondisinya, tapi kalau diambil yg terbaik Indonesia jauh lebih hebat itupun pribumi masih sering unjuk gigi. Singkat kata melayu dan pribumi Indonesia pada umumnya sama2 pemalas dan perlu digembleng.

Di luar pendidikan saya masih bangga atlit bulutangkis Indonesia masih didominasi pribumi, tidak seperti Malaysia.

Kesimpulannya: Indonesia negara besar yg kedepannya menjadi sangat potensial (semoga saja saya masih hidup saat itu) jadi jangan macam-macam dengan kami. Saya pribadi lebih terluka mengetahui pelaku terorisme diotaki orang Malaysia daripada berita penangkapan 3 KKP kami.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Kemiskinan itu...

Kemiskinan itu indikator kinerja pemerintah di mata rakyat.
Kemiskinan itu bisa sebab bisa juga akibat.
Kemiskinan itu sering jadi alasan untuk mengkritik pemerintah saat itu.

Kalau rakyat miskin bisa jadi memang karena menntal bangsa ini masih memble, tapi apa adil jika kita menyalahkan mental tersebut sementara penyuluhan, pendidikan dan pembinaan dari pemerintah kurang? Lho itu tugas pemerintah, lihat saja tontonan TV lokal (non-kabel) apa ada tontonan yg memotivasi? minim. Orang yg berpendapat seperti ini biasanya gagal melihat sisi lain Indonesia (dan hanya berpandangan sempit pada sekitarnya saja, mungkin orang kota kali yah)

Ambil contoh seseorang tumbuh dengan tekad besar, semangat belajar tinggi meskipun dari keluarga miskin. Kemudian menjelma menjadi orang sukses dan kaya raya... OK tapi faktanya hal yg demikian selalu 1 : banyak orang. Mengapa? Aku pribadi percaya bahwa tidak ada manusia yg benar2 bodoh atau benar2 lihai dst. Lalu mengapa? Kemunkinannya adalah orangtua (atau siapapun yg membimbing) dan lingkungan (kultur). Tetap saja pemerintah punya andil dalam hal ini. Ingatlah bahwa kekayaan yg menimpa seseorangpun tidak selalu dibarengi kualitas kemanusiaan. Contoh? banyak! bahkan 100:1 Lihat Tuhan Bakrie. Lalu apa kita ingin orang miskin ini menjelma menjadi seperti itu? yg kemudian kembali menindas yg miskin!

Jelas ada masalah lain yg belum tuntas. Sesuatu yang masih menggerogoti moral dan mental seseorang baik saat miskin ataupun kaya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Badut TV

Tidak perlu seorang ahlipun saya bisa secara arogan menyatakan kebanyakan orang dibelakang acara televisi Indonesia adalah orang2 yg tak punya etika, sumber penyakit masyarakat miskin dan tak berpendidikan. Di saat orang2 menghujat selebritis yg bermasalah, orang lupa siapa yg membawa selebriti tersebut ke mata mereka.

Orang yg bersembunyi dibelakang kedok seni, dengan uangnya merasa telah melakukan apa yg pantas dikonsumsi masyarakat Indonesia. Menjadikan jutaan masyarakat Indonesia terhiptonis (oh ya bahkan ada acara hiptonis lho) oleh racun, membuat masayarakat lengah, malas berpikir kedepan. Tak terkecuali film2 yg membahas kemelaratan! coba diresapi lebih dalam: film tersebut malah mengajarkan bahwa dengan doa yg tertindas akhirnya akan menang. Saya mengerti jika film seperti itu dimaksudkan untuk membuka mata para eliter, pengusaha dst untuk menilik kembali jurang kapitalis yg mereka bangun. Tapi sadar atau tidak para pembuat film bahwa mental para konglomerat tersebut hanya dapat diubah dengan jalan dijatuhkan secara paksa (seperti halnya Suharto)? Terlalu naif cara berpikir pembuat film kita.

Seharusnya mereka mengambil tema yg jauh lebih progresif yang diselaraskan dengan kemiskinan di Indonesia. Bukannya tema introspeksi yg cuma ditangisi (atau ditertawakan) untuk kemudian dilupakan.

Acara/film untuk muda-mudi sering memuat hasrat seksual yg bebas. Tapi prakteknya dimasyarakat? mereka merespon meniru sama persis! yg hasilnya adalah generasi pasutri muda tanpa masa depan jelas. Tentu saya senang denga pendidikan sex usia muda. Tapi apa yg dilihat di televisi selalu berbeda konteks. Di TV/Film sepertinya uang, mobil dan kemewahan lainnya senantiasa jatuh dari langit. Sangat miris dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya. Sangat tidak bertanggung jawab

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Inilah jadinya kalo artis berbicara dengan para intelektual

Kalau menonton acara Jakarta Lawyer kemarin, saya rasanya miris mendengar komentar dari pihak para artis yg jelas terdengar arogan, dan sadar tapi tak tahu diri akan kesalahannya. Omongan tidak berbobot, tidak berpendidikan dengan gaya bahasa glamor yg tidak jelas maksudnya. Pak Karni yg senantiasa menunjukkan keengganannya menganngapi pihak selebriti lebih jauh seperti tak dipahami oleh mereka.

Dan kemenangan pihak selebriti atas KPI adalah momok memalukan dimana orang tidak lagi melihat masa depan melainkan hanya ingin bagaimana sekarang bisa menikmati hidup layaknya negara "konsumen" seutuhnya.

Mengerikan jika mayoritas orang lebih memilih racun dan si penjual pun tak ragu2 menambah dosisnya.

great inquiry in english visit http://www.punkerslut.com/articles/mr_and_mrs_celebrity_what_are_you_selling_me_now.html

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments