Pilih ngesex saja atau jadi Ibu muda?

Dua hari lalu saya mengambil obat di apotik di semarang utara. Sewaktu menunggu saya melihat seorang ibu yg masih muda melajukan sepedanya dengan dibonceng anaknya yg masih balita. Pada pertigaan sepertinya sang anak menjatuhkan sesuatu (kemungkinan uang) dan meminta Ibunya untuk berhenti agar bisa mengambilnya lagi. Setelah berhenti di tepian sang Ibu lantas jengkel, menurunkan sang balita dengan kasar dari sepedanya dan menyuruh anak mengambil barang yg terjatuh di tengah pertigaan dengan nada marah. Sang anak berjalan saja tanpa menghiraukan situasi jalan (ya maklum namanya balita apa sih yg bisa anda harapkan?), tiba2 dari arah lain sebuah mobil sedan ingin berbelok melewati pertigaan (jalannya kecil kok) tersebut. Untungnya pengemudi cukup sigap mengerem, tapi sang anak kelihatan "santai" saja dan melanjutkan langkahnya untuk mengambil barang yg terjatuh. Mobil telah melintas dan anak mengambil barangnya untuk kembali menyeberang ke ketepian, sang ibu terlihat tidak sabar menunggu. Kali ini datang pedagang buah untuk berbelok, sang pedagang dengan sigap menghindari sang anak yg belum mencapai tepi jalan.

Saya berpikir keras tentang hal ini hingga mencapai kesimpulan "memang kondom mahal ya?"

Ya elah mas tumagonx, masalahnya tidah sesederhana itu! Ph ya? Hmm kok saya mencium bau agama lagi ya? ah pusing

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Pecundang bermental 1/2

Di KTP dan identitas manapun yg saya punya selalu tertera agama: Islam. Kurang lebihnya sama dengan mereka yg menamakan dirinya FPI, tapi ada bedanya saya tidak bangga sementara mereka sangat bangga tapi kalau tidak tahu bangga atau tidak? itulah mereka yg berlindung pada zona aman. Munafik, menyebut dirinya islam moderat dengan memaksakan pelbagai penyesuaian "medernisasi" pada Al-Quran dan mengenakan prinsip agama "super toleran" yg jauh dari matematis tapi bak hukum Indonesia yg dapat diodod2 se-enaknya. Mereka yg tidak mengerti bagaimana menjalankan perintah agamanya...

Kok saya sok tahu ya? Ya soalnya begitu saya dengar satu hal saja yg tidak bisa saya jalankan pilihan saya cuma ya atau tidak bukannya belum, nanti, bentar atau kata-kata bermuatan kompromi lainnya. Ah saya ini terlalu kaku! Agama tidak sekaku itu kalee! Oh ya? Hmm saya pikir saya orang yg berpegang pada prinsip ternyata bukan? Wahh

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

si Bejo

Memang enak kalau orang setiap hari menang lotre, apa mungkin? Ya namanya juga peruntungan kalaupun itu 8:10 ataupun 1:10 tetap saja mungkin.

Menjadi pekerja atau pengusaha butuhkah keberuntungan? bagaimana dengan investasi yg setiap tahun menciptakan milyader2 baru? Adilkah cara pengayaan tersebut? Pengusaha mengeksploitasi pekerja karena dianggap orang rendahan yg patut digaji rendah? Benarkah pekerja umumnya lebih bodoh dari bos mereka? Apa landasan untuk mengukurnya dan benarkah status pendidikan adalah solusinya? Jika sistem pendidikan kita bagus seberapa rasionalnya dengan praktik kehidupan riil.

Bagaimana dengan lingkungan selama mereka tumbuh? bisakah disama-ratakan, bijakkah jika kita bilang "salahmu sendiri jadi seperti ini!"?

Banyak orang masih terjebak pada dogma keluarga besar. Kalau jatuh pada kemiskinan sangat menderita, jika dalam kekayaan menjadi kawanan serigala rakus dan korup. Kembali ke "si bejo", bagaimana mungkin kita menutup mata bahwa "si bejo" membantu kehidupan kita? 25%? 33%? 50%?  Mengapa mudah menghina si miskin jika si kaya lupa telah di bantu "si bejo" dalam kehidupannya sehingga tak rela membagi 25/33/50% untuk dirasionalkan dalam wujud bantuan.

Benarkah pengusaha peduli pada pekerja? Mentalitas yg bagaimana? Bisa saja seluruh gaji mereka hanyalah sebagian kecil dari bunga investasi atau gampangnya "jangan sampai keluar uang untuk bayar orang" kalau ada masalah biar mereka yg mati bukannya saya. Bukti? sementara serikat pekerja terus menerus sia2 berdemo, milyader2 terus meroket kekayaannya seperti dilansir kompas.

PenghargaanJujur saya adalah orang yg akan (dan semoga untuk selamanya) hanya bekerja lebih dengan otak bukan fisik. Tapi kalau saya lihat tukang sampah atau penyapu jalan:
1. Mereka pasti tidak perdidikan tinggi
2. Mereka tidak mau berusaha
3. Mereka sudah hidup lama pada keluarga dengan tekanan hidup tinggi
tapi sering saya lupa:
1. Mereka mungkin tidak lebih beruntung dari saya
2. Besarnya usaha mereka ditentukan hasilnya secara tidak adil oleh lingkaran tekanan hidup
3. Belum tentu ada yg sudi bekerja seperti mereka -> Bisakah kehidupan kita stabil tanpa mereka?

Tentu ini bukan acara parodi reality show yg didramatisir di televisi...

Sama dengan pekerja buruh... berapa sih perbandingan gaji mereka dengan supervisor apalagi bos mereka? Benarkah pekerjaan bos itu sesusah itu, tidak mungkinkah pekerja kasar menjelma jadi bos tanpa "si bejo"? Kalau dibalik bisakah pengusaha tanpa pekerja? OK buruh bisa diminimalisir dengan mesin tapi bisakah mesin ada tanpa buruh? Jadi ini bukan budaya imperialisme? Benarkah orang Indonesia tidak mengenal kasta? lalu disebut apa hal ini? Kalo pemimpin pasti benar, yg dibawah harus ikut "benar" masih menyangkal kalau ini adalah bahasa halus dari kasta. Lho kan orang bekerja ada jenjang karir yg ditempuh dengan menjilat? Gimana saya ini

Karena kesempatan adalah bagian si bejo
Katakanlah saya lulusan S1 kemudian bekerja di perusahaan pada posisi yg lebih tinggi dari lulusan D3 benarkanh saya lebih hebat? tentu saja diharapkan seperti itu toh itu adalah mekanisme yg baik atas dasar pendidikan? Apa iya? Banyak orang yg menolak/menyerah diajari hanya karena minder, padahal kesempatan adalah bagian dari si bejo bukan? Lalu orang ini bisa disebut payah? Belum tentu juga, yg harus ditanyakan adalah mengapa mentalitas  itu ada? Kesialan karena lingkungan mereka tidak mengajarkan untuk menuntut harga diri? Pernah dengar "Buat apa pendidikan tinggi kalau nantinya perempuan hanya ngurus dapur" Ini mungkian salah satu buah dogma kadaluarsa agama dan imperialisme yg tetap dijunjung tinggi karena mereka takut pada si sok Tahu setelah mati nanti. Ingatlah bahwa mereka yg terus berusaha adalah mereka yg ingin meninggalkan ketergantungan pada si bejo(baca: doa, nepotisme, mlm dst) bahkan menjadi geniuspun bukan otomatis karena IQ/EQ kok. Mau? Niat?

masih saja kekayaanmu, aturanmu dan keluargamu adalah kapitalismu, pengadilanmu dan  monarkimu

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Komunisme dan Budaya Indonesia

Tak salah jika bung karno tercetus ide "mekso" NASAKOM yg mana dianggap paling sesuai untuk kesatuan NKRI dan karakter hidup bangsa saat itu.

Masyarakat yg memegang teguh nilai-nilai sosial (menjurus pada sosialis) seperti gotong-royong, sodakoh, infaq, tepa-selira dst suka atau tidak adalah bagian dari komunisme. Saat ini saya yakin masih banyak orang yg mendermakan hartanya untuk fakir miskin, hal ini justru oleh kapitalis mereka disebut komunis padahal kita merasa "baik". Dalam hal ini juga karakter dari bangsa Indonesia sendiri seringkali "narimo" dan lebih banyak tidak rakus dari yg rakus adalah kunci kecocokan dengan komunis. Sayangnya... meski cuma minoritas kerakusan orang2 ini teramat akut. Jadi bingung mau liberal atau komunis... sayang orang sudah negatif dengan komunisme padahal yg mereka dengungkan "ekonomi kerakyatan" itu juga bagian/sub dari komunisme.. heran

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Apakah Operator Seluler Tak Punya Aturan

Mengenai jumlah sampah yg dikirim pihak ketiga ke setiap pengguna setiap harinya? Bayangkan saja pengguna membayar/membeli pulsa dangan harga pantas, tetapi setiap harinya kita mendapat 2-4 sampah iklan yg kita sendiri tidak tahu apalagi menginginkan. Setiap operator harusnya tahu diri bagaimana mengontrol invasi pihak ketiga tersebut yg jelas-jelas sebagian besar nebeng dari operator (yg mana semakin menggelisahkan konsumen akan kebenaran isi sms tersebut).

POTONG HARGA JIKA MAU PROMOSI!

Ini kan bukan media gratis seperti radio atau TV yg dapat dimaklumi kalau ada iklannya untuk menunjang produksi. Ini adalah media yg konsumen biayai sendiri, tentu operator mendapat pendapatan tambahan dari pihak penyampah tapi analoginya seperti halnya sales keliling kita berhak untuk tidak membukakan pintu atau menolak jika terlanjur bertemu, nah ini nyelonong aja kayak maling (dan tujuannya memang mau maling pulsa) ! Kalau memang pada kartu perdana/isi ulang dikatakan kita akan mendapat iklan, ya saya maklum tapi jika tidak harusnya operator memangkas biaya pulsa dengan memberi kejelasan maksimal berapa sampah yg akan diterima konsumen kan mereka sendiri yg mengijinkan pihak ketiga tersebut.

Ini sih lebih miris daripada spam di email. Pada kasus email kita ditumpangi iklan karena memakai email dengan gratis, nah spam datang dengan berbagai cara yg sebagian disebabkan karena kita sering mengumbar email, dan sebagian lagi adalah kebetulan. Itupun pihak provider berusaha menolong dengan membuat spam filter. Nah bagaimana dengan operator seluler Indonesia? Masih punyakah mereka tanggung jawab?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Sok inggris: This is how dream devastated

Lately when I read kompas.com if it was not about natural disasters and government's repeated blunders on handling them, it was about corruptions. For months the news highlights scumbag Gayus Tambunan and the untouchable by law, the richest man (in Indonesia or probably SE Asia), the man who should responsible for Lapindo (Porong) disaster, the former ministry of welfare, the current leader of Golkar party, the ALMIGHTY Aburizal Bakrie. Bakrie is the grafter to Gayus in recently massive tax deviation for his giant corporation.

Arguably there is (of course) tons of another Gayus lurking but feel overconfident to just keep doing their systematic crime. Gayus the scum could made "easy hot" money accounted for (debatable) $10M just from Bakrie Group. While Bakrie himself might be run for future presidential election, this rich bastard not even solve the porong's mud lake case (caused by his own subsidiary company) which suffer hundred thousand victim whence he claimed himself the ministry of welfare. The judge, prosecutor and police can be easily bought by these Bakrietards. His immunity to law also like no others. Gayus even bribe the prison head guard to gain his "free" weekend vacation while still in imprisonment. This man never regret his act like hara-kiri act in japan after all who will reject money? his money is the same amount as the government had to compensate for the dying livestocks of Mount Merapi's wrath victims which is far too late to be done now.

The gross and evident corruptions are used to be solved by still-trusted fearless KPK but the law's illness will keep these commodity case away from KPK. How much money gone to this fucktards everyday? How more precious assets being sold out by our government? How many smart people will keep flee from Indonesia to catch their dreams? How long will the elderly keep poisoning the youngster? Even I keep my skeptic toward current generation who has soaring consumerism and glamor attitude or else a baby boomer generation (not by number of child but from early marriage) or a losing identity generation. The continuous natural disaster is far from lucky fairness anyway with most victims were the poor.

All majority people in every party and legislation is a complete clown, they start out by making debt, working to pay debt, corrupting to gain profit, went insane if failed to be one (I'm serious). One of their joke lately is "If we want to learn democracy we should visit to where "demos" and "krathos" belong to, Greece!" WTF! Can't they learn to use the internet? Nope, oh maybe they will misclick porn link instead (because they only understand picture not english words) and then start calling bitches (for the males) to their office. And surprise! this bitch one day make their way to legislation chair too! alongside dozen of sex bombshell actress and incompetent actors. Government department is filled by degenerate workers who hunt for pension and easy monotonous job. Government is also well known for their excellent piety based on unfounded pathetic religious/myth crap.  Ministers keep polluting television for promoting an act they may not achieved yet. Researcher (IMO the most important human resources) is never have proportional attention by government and keep fleeing abroad which sometime won't ever look back in advance (maybe they think: for what? for being born there?). Oh and by becoming corruptor, if you get caught you just get 3 or 4 years in jail (minus that with revision for "good" behavior) and add the ability to decorate or fully renovate your own prison into hotel (It happening!) is certainly no big deal right?

The secret why this keep happening? The government keep the people (where uneducated still majority) dumbfucked and poor. Yeah, like I ever give a vote since I eligible to! The government reliance to western (even Malay) while at the same time rarely learn their fault is a sweet combination. A pity nation which could be a great power by now. Grieving sad! I wonder what people of Papua, Maluku and Nusa Tenggara think about it? They are the most neglected area by the government anyway.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Antara Rasa dan Nyawa

Beberapa minggu lalu, tiba-tiba saja ada burung emprit tergeletak tengkurap di halaman samping. Aku pikir dia mengalami patah sayap (entahlah) tapi yg jelas tidak tiba terbang lagi. Ku putuskan untuk merawatnya sementara. Ternyata dipatuk emprit lumayan sakit lho soalnya tidak mau lepas :))

Setelah 1 hari, ternyata masih tidak bisa terbang mungkin memang benar emprit tersebut mengalami patah sayap dan juga pada kaki (tapi mungkin juga lumpuh syaraf). Pastinya aku sudah tidak punya pilihan kecuali mengeksekusi hidupnya tapi aku tidak mampu. Rasanya sangat salah karena burung sebagaimana mamalia lain memiliki sistem otak dan syaraf yg kompleks dan pastinya berasa sakit benar kalau bisa bicara. Akhirnya aku pilih membiarkannya di halaman depan supaya dimangsa kucing. Ternyata aku salah besar, keesokan hari dia sekarat karena kedinginan dan tewas 1 jam kemudian T_T sungguh2 bersalah.

Jadi kepikiran bagaimana rasa bersalah tersebut mengecil jika kita mengeksekusi hewan yg lebih rendah (saraf yg lebih sederhana) apalagi tanaman. Di beberapa negara kekejaman terhadap binatang adalah kejahatan kriminal lho.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments